Artikel / CHAIRMAN

Bagaiamana Peranan Seorang Pemimpin Dalam Mengatasi Konflik di Kantor

Blog Artikel dan Info

Bagaiamana Peranan Seorang Pemimpin Dalam Mengatasi Konflik di Kantor

Setiap manusia diciptakan berbeda. Baik fisik maupun isi kepalanya. Karenanya, konflik pun tidak bisa dielakkan, termasuk di tempat kerja. Entah itu konflik sesama karyawan maupun antara atasan dan bawahan. Misalnya, adu argumen secara tidak sehat atau ketidaksepakatan suatu hal.

Namun, konflik di tempat kerja bisa berakibat buruk jika dibiarkan berlarut. Seperti penurunan kinerja karyawan yang mengalami konflik karena fokus mereka terpecah antara pekerjaan dan konflik yang belum tuntas. Agar tidak menjadi masalah berkepanjangan, konflik atasan dan bawahan harus segera diselesaikan. Bagaimana caranya? Ikuti saja 9 cara efektif mengatasi konflik antara atasan dan bawahan berikut ini.

1. Biarkan Emosi Mereda Lebih Dulu

Masalah atau konflik tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan baik ketika pihak yang terlibat masih selalu mengedepankan emosi ketimbang nalar. Karena itu, cara pertama untuk menyelesaikan konflik adalah meredakan emosi kedua belah pihak terlebih dahulu. Biarkan tensi yang tinggi menjadi turun sebelum memulai proses penyelesaian konflik. Tidak ada ukuran yang pasti berapa lama kondisi emosi bisa turun. Bisa dalam hitungan jam, bisa juga butuh beberapa hari. Jika Anda menjadi pihak yang terlibat konflik, manfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menurunkan emosi. Kalau memang perlu pergi dari situasi tersebut selama beberapa waktu, lakukanlah. Intinya, jangan pernah mencoba berbicara ketika emosi masih tinggi.

2. Cari Tahu Akar dari Konflik yang Muncul

Emosi yang sudah terkontrol menjadi syarat yang harus terpenuhi sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Untuk mengatasi konflik antara atasan dan bawahan harus diketahui secara mendalam akar masalahnya. Saat melakukan identifikasi, emosi mutlak sudah harus terkontrol. Jika emosi Anda masih tinggi, akal sehat akan sulit muncul dan bekerja dengan baik. Coba telaah apa yang benar-benar menjadi pemicu konflik. Apakah murni hanya terkait dengan pekerjaan, atau sudah mulai menyangkut hubungan antarpribadi. Dengan mengetahui secara pasti titik awal masalah yang timbul, Anda pun bisa mulai mencari cara terbaik agar konflik bisa diselesaikan secara damai. Ingat, jangan pernah mengikutkan emosi saat melakukan identifikasi konflik.

3. Bicarakan Secara Personal

Setelah kondisi mereda, minta waktu berbicara secara personal dengan pimpinan. Pastikan waktu untuk melakukan pembicaraan ini mencukupi untuk mengeluarkan semua yang Anda rasakan selama ini. Katakan dengan jujur tanpa ditutup-tutupi.  Jika berbicara dengan nada dan cara yang baik, pihak pimpinan pasti akan mau mendengarkan. Saat melakukan pembicaraan ini, lakukan secara empat mata. Tidak perlu ada saksi, karena ini bukan persidangan. Proses komunikasi seperti ini sangat penting untuk mengatasi konflik antara atasan dan bawahan. Bukan mustahil, konflik yang muncul ternyata hanya disebabkan oleh kesalahpahaman akibat komunikasi yang buruk di antara kedua belah pihak.

4. Beri Kesempatan Setiap Pihak Mengutarakan Pendapatnya

Dalam proses pembicaraan antara atasan dengan bawahan, kedua pihak harus mau mendengar apa pun pendapat, kritikan, dan saran yang dikatakan pihak lain. Jika Anda seorang atasan, jangan munculkan ego sebagai seorang atasan. Karena kepentingan pribadi hanya akan merusak proses pembicaraan ini. Jika Anda seorang bawahan, dengarkan juga setiap pandangan dan kritikan yang diberikan atasan Anda. Ini merupakan proses sharing pendapat yang harus dijauhkan dari kepentingan pribadi. Hindari juga pandangan salah atau benar sepanjang proses berbagi pendapat ini. Karena hal itu hanya akan memicu konflik berikutnya.

5. Fokus Terhadap Masalah Bukan Pribadi

Ilustrasi mengatasi konflik atasan dan bawahan Adu argumentasi sangat mungkin terjadi ketika atasan dan bawahan melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan konflik. Jangan pernah keluar dari lingkaran masalah saat terjadi adu argumen. Fokuslah pada masalah yang harus diselesaikan, bukan menyerang pihak lain secara pribadi. Salah satu kekurangan yang terjadi di masyarakat kita adalah kerap menyerang pribadi ketimbang menyelesaikan inti masalahnya saat melakukan adu argumentasi. Jangan sampai hal itu terjadi ketika Anda dengan bawahan atau atasan melakukan proses untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.

6. Negosiasi Ulang

Ketika proses pembicaran untuk mengatasi konflik antara atasan dan bawahan tengah dilakukan, kemungkinan terjadinya deadlock masih cukup besar. Jalan buntu ini bisa disebabkan kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Karena itu, melakukan negosiasi ulang menjadi salah satu cara untuk bisa menemukan solusi. Anda sebagai atasan menawarkan konsesi yang sedikit berbeda tanpa mengurangi kepentingan pihak lain. Sebagai bawahan, Anda juga harus bisa memberikan tawaran baru dengan sedikit mengurangi poin-poin yang sebelumnya Anda sodorkan. Dengan saling mempertukarkan konsesi yang tidak merugikan, proses penyelesaian konflik akan berlangsung dengan lebih lancar. Terutama ketika keuntungan yang didapat kedua belah pihak sudah berimbang.

7. Mencari Solusi Bersama

Inti dari proses pembicaraan dalam mengatasi konflik antara atasan dan bawahan adalah sama-sama mencari solusi terbaik. Baik pihak atasan maupun bawahan harus mau menampung semua aspirasi dan pendapat yang muncul. Setelah itu barulah sama-sama berpikir untuk mendapatkan solusi dengan berpatokan dari pendapat kedua belah pihak. Usahakan tidak hanya mendapatkan satu solusi dari konflik yang terjadi. Dapatkan solusi-solusi alternatif sebagai cadangan andai solusi pertama tidak berjalan dengan baik. Butuh rasa saling percaya yang besar dari kedua belah pihak agar bisa menjalankan solusi yang sudah disepakati. Kepercayaan akan kembali menumbuhkan hubungan yang sehat di antara atasan dengan bawahan.

8. Minta Bantuan Pihak Ketiga

Ada kalanya pembicaraan yang dilakukan akhirnya tidak menemukan solusi seperti yang diharapkan. Baik atasan maupun bawahan sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Sama-sama kukuh dengan pendirian masing-masing. Saat itulah dibutuhkan bantuan pihak ketiga atau mediator untuk menengahi. Melakukan mediasi merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik antara atasan dan bawahan. Pihak ketiga ini biasanya adalah staf atau pimpinan HRD di tempat bekerja. Memanfaatkan mediator akan memberi pandangan baru yang bersifat netral. Sehingga diharapkan ada solusi yang bisa menengahi konflik yang terjadi.

9. Terapkan Aturan yang Berlaku

Andaikan semua cara untuk mengatasi konflik antara atasan dan bawahan sudah dilakukan tapi tak jua menemukan solusi, jalan terakhir tentunya dengan melihat kembali ke aturan perusahaan. Dalam hal ini, pihak HRD yang akan membantu menemukan aturan yang bisa menyelesaikan konflik. Memang ada unsur pemaksaan ketika akhirnya aturan yang berlaku menjadi patokan terakhir. Bisa jadi pihak atasan yang akhirnya harus tunduk kepada aturan, bisa juga malah kedua belah pihak yang akhirnya harus pergi. Tapi setidaknya hal ini bisa menghindarkan konflik berkelanjutan yang justru bisa merugikan perusahaan. Dalam sebuah perusahaan, perbedaan pendapat sangat wajar terjadi. Karena tidak ada isi kepala manusia yang sama. Upaya dalam mengatasi konflik antara atasan dan bawahan justru harus dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan kinerja karyawan.

Manfaatkan konflik tersebut untuk menemukan berbagai cara yang inovatif untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. Itu yang lebih baik.

14/01/2018
2268 orang telah membaca artikel ini.
|Wikipedia |